Jelang Kirab Mahkota Binokasih, Dedie Rachim Ajak Generasi Muda Maknai Filosofi Kepemimpinan Jawa Barat

Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake merupakan prosesi ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan upaya membangkitkan kembali ikatan batin

Rekam24.com, Bogor – Menjelang pelaksanaan kirab Milangkala Tatar Sunda yang dijadwalkan berlangsung esok hari, Jumat (8/5/2026), Dedie Rachim melakukan peninjauan akhir di kawasan Batu Tulis, Bogor. Didampingi jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Dedie memastikan seluruh logistik hingga akses jalur kirab telah mencapai tahap final.

Dalam rangkaian persiapan tersebut, Dedie secara simbolis menerima Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake. Baginya, prosesi ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan upaya membangkitkan kembali ikatan batin dan kekerabatan antarwilayah di Jawa Barat.

“Jawa Barat memiliki hubungan persaudaraan yang sangat kuat. Jejak sejarah ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk ditransformasikan kepada generasi muda,” ujar Dedie pada Kamis (7/5/2026).

Baca Juga : Mahkota Binokasih Kembali ke Bogor, Simbol Kejayaan Pajajaran

Ia menambahkan, nama “Binokasih” yang berarti kasih sayang mengandung nilai filosofis mendalam. “Ini adalah pengingat bahwa setiap pemimpin di Jawa Barat harus memiliki kasih sayang agar alam dan manusianya dapat terbina dengan baik,” tuturnya.

Selain kesiapan kirab, fokus perhatian juga tertuju pada progres Museum Pajajaran. Dedie menekankan bahwa pembangunan museum ini bukan sekadar urusan infrastruktur fisik, melainkan media pembangunan karakter manusia melalui literasi sejarah.

Museum tersebut nantinya akan menampilkan timeline sejarah lengkap yang disusun oleh tim Universitas Padjajaran (Unpad), mencakup era prasejarah, Kerajaan Tarumanegara, Galuh, Cirebon, hingga masa Pakuan Pajajaran dan Sumedang Larang.

Baca Juga : Besok! 1.500 Peserta Banjiri Kirab Mahkota Binokasih Bogor, Ini Titik Pengalihan Jalan

“Artefak utamanya adalah Prasasti Batu Tulis. Di sana terpatri momentum penobatan raja yang memegang teguh filosofi Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. Koleksi museum akan terus berkembang secara dinamis seiring hasil riset kurator dan kontribusi masyarakat,” jelas Dedie.

Meski koleksi masih akan terus dilengkapi melalui kerja sama dengan Museum Sri Baduga (Bandung), Sumedang Larang, hingga Kasepuhan Cirebon, Dedie optimis museum ini sudah siap menyambut peresmian pada 3 Juni mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, Dedie juga melaporkan hasil pertemuannya dengan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Pertemuan tersebut bertujuan menyampaikan apresiasi terkait pemanfaatan lahan di sekitar kawasan Prasasti Batu Tulis.

“Saya melaporkan bahwa di antara lokasi Prasasti Batu Tulis dan Museum Pajajaran terdapat lahan milik Ibu Megawati Soekarnoputri yang telah diizinkan untuk dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Bogor melalui proses pengadaan. Kami sangat berterima kasih dan turut mengundang beliau (Pramono Anung) untuk hadir dalam peresmian nanti,” pungkasnya.

(Maya Melina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *