83 Persen Susu Nasional Masih Impor, Wamenko Pangan Siapkan Langkah Strategis

Wamenko Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan bahwa produksi susu nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar 17 persen

Rekam24.com, Bogor –  Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan bahwa produksi susu nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar 17 persen kebutuhan dalam negeri. Alhasil, Indonesia masih harus bergantung pada impor untuk menutup 83 persen sisanya.

“Kesenjangan yang cukup besar ini harus segera dirumuskan dan diatasi oleh seluruh kementerian dan lembaga terkait,” ujar Hanif saat meninjau peternakan Erif Farm di Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Minggu (7/6/2026).

Menurut Hanif, rendahnya produksi susu domestik dipicu oleh sejumlah faktor klasik. Mulai dari keterbatasan lahan, minimnya ketersediaan pakan dan konsentrat, hingga tingginya disparitas harga susu di tingkat peternak, koperasi, dan industri pengolahan.

Baca Juga : Dinilai Tebang Pilih, Satpol PP Kota Bogor Dikritik KPP Bogor Raya

Ia menilai, pengalaman para peternak sapi perah di kawasan Cisarua bisa menjadi bahan evaluasi penting untuk mendongkrak produksi susu segar nasional.

“Saya berharap kita bisa mengembalikan Cisarua sebagai sentra susu segar nasional, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan Kota dan Kabupaten Bogor terlebih dahulu,” tambahnya.

Guna mencari jalan keluar, Hanif juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk membantu mengatasi persoalan pakan dan sengkarut tata niaga susu.

Baca Juga : Kecelakaan Beruntun 5 Motor di Jalan Padjadjaran Bogor, 1 Tewas 2 Luka

Rendahnya produksi ini ironisnya beriringan dengan tingkat konsumsi masyarakat. Data dari Kemenko Pangan menunjukkan konsumsi susu masyarakat Indonesia baru mencapai 16 kilogram per kapita per tahun. Angka ini masih jauh di bawah standar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), yakni 30 kilogram per kapita per tahun.

Pengelola Erif Farm, Satriyo, menyambut positif kunjungan tersebut. Ia berharap intervensi pemerintah bisa menghidupkan kembali kejayaan Cisarua yang meredup.

“Pada era 1980-an, Cisarua dikenal sebagai sentra sapi perah. Namun sekarang, banyak lahan yang beralih fungsi menjadi vila, hotel, dan tempat wisata. Semoga kehadiran pemerintah menjadi angin segar bagi kami,” kata Satriyo.

Baca Juga : Kecelakaan Beruntun 5 Motor di Jalan Padjadjaran Bogor, 1 Tewas 2 Luka

Selain lahan, pemilik Erif Farm, Erif, menyoroti jurang harga (disparitas) susu segar yang sangat lebar. Saat ini, peternak hanya bisa menjual susu ke koperasi seharga Rp6.500 per liter. Sementara itu, koperasi menjualnya ke pabrik di kisaran Rp8.500 hingga Rp10.000 per liter. Mirisnya, di tingkat konsumen, harga susu melonjak drastis hingga Rp30.000 per liter.

Tak hanya masalah harga, produktivitas sapi lokal juga kalah jauh. Madun, seorang peternak milenial dari Kelompok Tani Merdeka Indonesia, menyebutkan adanya ketimpangan performa ternak.

“Di luar negeri, satu ekor sapi bisa menghasilkan hingga 60 liter susu per hari. Sedangkan di Indonesia, rata-ratanya baru sekitar 17 liter. Ini masalah produktivitas yang perlu solusi bersama,” pungkas Madun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *