Rekam24.com, Pasuruan – Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda, Lampung Selatan, tercatat mengalami erupsi menerus. Kondisi tersebut memicu pemandangan sinar api serta suara dentuman yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Pasauran.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk periode pengamatan Sabtu (5/9/2026) pukul 18.00–24.00 WIB, gunung api setinggi 157 meter di atas permukaan laut tersebut berada pada Level III (Siaga).
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau PVMBG Badan Geologi, Muhammad Dika Nurzaman, menyampaikan bahwa erupsi menerus ini diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau air mancur lava.
“Kondisi terkini Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga saat laporan ini dibuat,” tulis Dika dalam laporan resminya, Sabtu (5/9/2026).
Secara visual, tubuh gunung tertutup kabut tebal (0–III) dan asap kawah tidak teramati. Kendati CCTV visual di lapangan dalam kondisi mati (off), pengamat di Pos Pasauran memantau langsung keberadaan sinar api yang membumbung di area kawah, disertai suara dentuman dan gemuruh.
Dari segi kegempaan, pencatatan merekam satu kali gempa letusan dengan amplitudo maksimum 70 mm dan durasi yang tergolong sangat panjang, yakni mencapai 21.600 detik (6 jam).
Kondisi meteorologi di sekitar lokasi terpantau berawan hingga mendung dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut. Suhu udara berada pada kisaran 27,2–27,8 °C dengan kelembapan 69–73 persen.
Menyikapi peningkatan aktivitas vukanik ini, PVMBG mengeluarkan imbauan tegas bagi masyarakat, wisatawan, maupun nelayan untuk tidak mendekati area gunung.
“Masyarakat, pengunjung, wisatawan, atau pendaki dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif,” imbau PVMBG. (Maya Melina)






