Rekam24.com, Bogor – Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau mencapai sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, pada Minggu (6/9/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut berdasarkan analisis citra satelit, terdapat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang bergerak ke sejumlah wilayah tersebut. Salah satu klaster sebaran terpantau hingga ketinggian 20.000 kaki dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, serta Jawa Barat.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi paparan abu vulkanik, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Baca Juga :Antisipasi Abu Vulkanik Anak Krakatau, Jenal Mutaqin Imbau Warga Bogor Pakai Masker
Praktisi kesehatan sekaligus edukator medis, dr. Tirta Mandira Hudhi, turut membagikan sejumlah tips untuk membantu masyarakat mengurangi paparan abu vulkanik terhadap tubuh.
Dr. Tirta mengatakan dirinya pernah mengalami kondisi serupa saat erupsi Gunung Kelud dan Gunung Merapi. Ia pun mengingatkan warga yang berada di wilayah terdampak untuk memperhatikan kesehatan, khususnya saluran pernapasan dan kulit.
“Buat kawan-kawan yang tinggal di Jabodetabek, Jawa Barat, dan sekitarnya yang terdampak abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau, ini saran dari saya. Kebetulan dulu saya pernah terdampak dari abu Gunung Kelud dan Gunung Merapi,” ujar dr. Tirta, Minggu (6/9/2026).
Baca Juga : Anak Krakatau Alami Erupsi Menerus, Sinar Api dan Suara Dentuman Teramati dari Pasauran
Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan
Dr. Tirta mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker ketika harus melakukan aktivitas di luar rumah, meski abu yang terlihat relatif tipis.
“Yang pertama adalah kalian kalau ke mana-mana aktivitas outdoor, walaupun abunya tipis, itu harus memakai masker. Kenapa? Karena abunya itu kalau terhirup terlalu sering ke dalam saluran pernapasan, bisa menyebabkan reaksi alergi dan gangguan saluran pernapasan atas. Bahkan pada kondisi parah bisa menyebabkan bronkitis,” jelasnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan paparan abu hanya karena jumlahnya terlihat sedikit.
Baca Juga : Ada Aktivitas Vulkanik, Gunung Semeru Keluarkan Guguran Lava Pijar
Jangan menyapu abu dalam kondisi kering
Selain melindungi saluran pernapasan, dr. Tirta juga memberikan saran terkait cara membersihkan abu vulkanik yang menempel di halaman atau area sekitar rumah.
Menurutnya, abu sebaiknya tidak disapu dalam kondisi kering karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.
“Yang kedua, kalau kalian mau bersihin abu yang ada di rumah, di halaman, jangan disapu beneran. Itu tambah terbang, tambah sesak napas dan batuk-batuk. Disiram pakai air,” imbaunya.
Bersihkan wajah dengan lembut
Dr. Tirta juga mengingatkan masyarakat untuk segera membersihkan wajah apabila terkena abu vulkanik.
Ia menyarankan penggunaan sabun pembersih wajah dan menghindari menggosok wajah secara kasar agar kulit tidak mengalami iritasi atau luka akibat partikel yang menempel.
“Yang ketiga, kalau kena muka, itu segera gunakan facial wash yang proper. Jangan langsung kegesek karena bisa baret-baret, serius coy,” tegasnya.
Sementara waktu, pilih olahraga di dalam ruangan
Dr. Tirta juga meminta masyarakat yang biasa melakukan olahraga di luar ruangan untuk mempertimbangkan aktivitas indoor selama kondisi sebaran abu masih berlangsung.
“Keempat, maklumi kalau baunya agak aneh, ya namanya juga abu vulkanik. Terus buat teman-teman yang hobi berolahraga outdoor, diganti dulu di indoor ya, daripada Anda berisiko terhirup abu vulkanis semakin banyak, kecuali Anda olahraga outdoor-nya mau pakai masker,” pungkasnya.
Di akhir imbauannya, dr. Tirta meminta masyarakat tetap menjaga kesehatan dan keselamatan serta mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang selama aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
“Salam sehat dan tetap stay safe,” tutupnya.
Sementara itu, BMKG menyatakan pemantauan terhadap perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer terus dilakukan. Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak diimbau mengikuti informasi dan arahan dari BMKG, PVMBG, BPBD, serta instansi terkait.






