Rekam24, Lampung, – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi dengan mengalami erupsi secara menerus sejak pagi ini.
Semburan abu vulkanik hitam pekat serta gumpalan asap tebal membubung tinggi ke udara, memicu kewaspadaan ketat dari otoritas terkait dan mengingatkan masyarakat pada rekam jejak sejarah letusan terhebat di Selat Sunda.
Rentetan erupsi ini tak ayal membangkitkan ingatan publik akan peristiwa letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883.
Bencana berabad lalu tersebut melontarkan jutaan ton material vulkanik, memicu gelombang tsunami raksasa setinggi 40 meter, dan menewaskan lebih dari 36.000 jiwa di sepanjang pesisir Banten dan Lampung.
Status Siaga dan Imbauan Resmi
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau pergerakan magma dan getaran tremor yang terekam dari pos pengamatan.
Status Gunung: Berada di Level III (Siaga).
Zona Bahaya: Masyarakat, nelayan, dan wisatawan dilarang mendekati kawah dalam radius 5 km.
Potensi Bencana: Semburan abu tebal, lontaran pijar material, dan bahaya erosi kawah yang berpotensi memicu gelombang tinggi.
Kondisi Pesisir: Hingga saat ini, belum ada indikasi tsunami, namun pemantauan visual dan seismik dilakukan secara real-time selama 24 jam.
Masyarakat di kawasan pesisir Selat Sunda diimbau untuk tetap tenang, tidak terpengaruh oleh isu atau rumor hoaks yang beredar di media sosial, serta selalu memperbarui informasi resmi dari pihak PVMBG dan BMKG.
Pihak berwenang juga menyarankan warga yang beraktivitas di luar ruangan untuk menyiapkan masker guna mengantisipasi paparan hujan abu tipis yang terbawa angin






