Diskusi Ricuh, Mahasiswa UGM Geruduk Nusron hingga Budiman Sudjatmiko

Sejumlah mahasiswa menggeruduk acara diskusi di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Rekam24.com, Yogyakarta – Sejumlah mahasiswa menggeruduk acara diskusi di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Diskusi tersebut dihadiri oleh Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.

Dalam video yang beredar di media sosial, massa mahasiswa tampak meneriakkan yel-yel “revolusi” hingga menggebrak mobil rombongan pejabat.

Acara diskusi semula berjalan kondusif saat ketiga narasumber memaparkan materi di atas panggung. Namun, situasi memanas ketika Budiman Sudjatmiko membahas soal mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, dan meminta agar tidak ada yang mengusik Tiyo. Secara spontan, sejumlah mahasiswa langsung naik ke atas panggung.

Baca Juga : Sapu Bersih Dua Laga Awal, Tim Sepak Bola Kota Bogor Tampil Perkasa di POPWILDA Jabar

Mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim”. Teriakan “Satuan Penjilat Prabowo-Gibran” juga berulang kali menggema di dalam ruangan. Kericuhan tak terhindarkan ketika sempat terjadi pelemparan gelas air mineral, yang membuat ketiga pejabat tersebut langsung dievakuasi ke luar gedung.

Di luar area GIK UGM, mahasiswa ternyata sudah menghadang mobil para pejabat. Nusron Wahid dan Sudaryono memilih turun untuk menemui massa dan terlibat debat kusir, sementara Budiman Sudjatmiko tidak terlihat di lokasi.

“Mana Budiman!?” teriak para mahasiswa.

Debat memanas saat mahasiswa mempertanyakan alih fungsi ratusan ribu hektare lahan di Papua yang menggusur masyarakat adat. “Ratusan ribu hektare habis. Siapa yang menentukan tata ruang itu? Bapak kan?” cecar seorang mahasiswa kepada Nusron. Nusron merespons dengan mengajak mahasiswa terbang langsung ke Papua, namun jawaban tersebut dinilai tidak menyelesaikan masalah.

Baca Juga : Rumah Sekaligus Bengkel Sparepart Motor di Citeureup Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Tak lama setelah berdebat, rombongan Nusron dan Sudaryono akhirnya dievakuasi meninggalkan lokasi menggunakan mobil patroli pengawalan (patwal) di tengah aksi kejar-kejaran dengan mahasiswa.

Ketua Serikat Mahasiswa UGM, Mesa, menegaskan bahwa para narasumber tidak layak berbicara tentang Pancasila di tengah pembungkaman suara rakyat dan program pemerintah yang dianggap nirmanfaat. Mesa secara khusus mengkritik Budiman Sudjatmiko yang kini dianggap sebagai simbol pengkhianat gerakan reformasi.

“Persetan bicara pengentasan kemiskinan ketika orang miskin dibunuh secara struktural dan ekonomi,” ujar Mesa.

Terkait aksi pengadangan dan kejar-kejaran, Mesa menyebut hal itu terjadi karena para pejabat mencoba menghindar dan tidak merasa bersalah saat ditanya langsung. Menurutnya, keributan ini adalah hal wajar dalam dinamika demokrasi.

Baca Juga : Dua Rumah di Ciampea Ludes Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

“Mereka memang harus didatangi karena tidak ada cara yang efektif selain itu. Pejabat itu tidak bisa dibisiki, tetapi harus diteriaki,” tegas Mesa.

Merespons insiden ini, Wamentan Sudaryono memberikan klarifikasi tertulis. Ia menegaskan kehadirannya murni untuk membuka ruang dialog yang demokratis dan siap menerima kritik apa pun. Namun, ia menyayangkan tindakan sekelompok orang yang memaksakan forum agar dihentikan secara sepihak.

“Saya merasa ada yang memukul saya, ada pelemparan air juga. Pihak keamanan akhirnya menyarankan kami keluar. Kalau dibilang kabur, itu tidak tepat. Saat mobil dicegat, kami justru keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” jelas Sudaryono, seraya menambahkan siap memakai dana pribadi jika mahasiswa mau bersama-sama mengecek langsung isu penggusuran lahan.

Di sisi lain, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid mengaku kecewa dengan tindakan anarkis tersebut. Ia menegaskan sejak awal pemerintah siap dikritik dan dicaci maki sebagai risiko jabatan, namun tindakan mahasiswa malam itu dinilainya anti-demokrasi.

“Rupa-rupanya ada sekelompok orang yang ademokratis, yang tidak siap menerima dialog pemikiran, memaksakan kehendak, dan mengedepankan kekerasan. Ruang debat tidak boleh ditutup dengan menciptakan opini tunggal dari kelompok tertentu,” pungkas Nusron.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *