RANS Entertainment Siap IPO Rp429 Miliar, Demi Proyek ‘Cipungland’

PT Rans Entertainment Indonesia (RANS), resmi memulai langkah besarnya untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Rekam24.com, Jakarta – Di tengah lesunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali parkir di zona merah, kabar mengejutkan datang dari panggung hiburan sekaligus pasar modal tanah air. Gurita bisnis milik Sultan Andara, PT Rans Entertainment Indonesia (RANS), resmi memulai langkah besarnya untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Langkah Initial Public Offering (IPO) ini menjadi angin segar yang paling dinanti-nantikan oleh para investor ritel dan penggemar setia keluarga Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.

Berdasarkan prospektus terbaru, RANS Entertainment memulai masa penawaran awal (book building) pada 23 hingga 25 Juni 2026. Perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan kekayaan intelektual (IP) berbasis digital ini membidik dana segar fantastis mencapai Rp429,25 miliar.

Baca Juga : Pemerintah Guyur Stimulus Rp 26,34 T, Intip Bocoran Insentifnya!

Berdasarkan data resmi perusahaan, berikut adalah rincian rencana alokasi dana IPO RANS:

Tujuan Penggunaan Dana IPO RANS Persentase
Operasional konser artis lokal & internasional 37,61%
Akuisisi saham Rans Kosmetika Indonesia 19,80%
Pembangunan proyek bertema Cipungland 18,64%
Tambahan modal untuk entitas anak (RNS) 8,82%
Pembentukan entitas AI bersama Feedloop 8,15%
Pelunasan pinjaman ke bank BNI 6,98%

Salah satu yang paling mencuri perhatian netizen dan investor adalah proyek Cipungland. Proyek yang menggunakan nama panggilan anak kedua Raffi-Nagita, Rayyanza “Cipung” Malik Ahmad, diprediksi akan menjadi daya tarik hiburan baru yang sangat besar di Indonesia.

Saham RANS sendiri direncanakan melantai secara resmi di BEI pada 10 Juli 2026 mendatang. Melalui aksi korporasi ini, nilai kapitalisasi pasar (market cap) RANS Entertainment diperkirakan langsung melejit di kisaran Rp1,70 triliun hingga Rp2,14 triliun.

Kabar IPO RANS ini datang saat kondisi pasar saham domestik sedang mengalami tekanan. Pada perdagangan Selasa (23/6/2026), IHSG ditutup melemah 0,25 persen ke level 6.101,33.

Baca Juga : Perangi Penyakit Menular, DPRD Kota Bekasi Ajak Warga Bersinergi

Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp348,13 miliar di pasar reguler. Saham BYAN terkoreksi tajam hingga 9,85 persen, disusul oleh saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BBCA dan BMRI yang ikut menjadi pemberat indeks.

Beruntung, penurunan IHSG tidak merosot lebih dalam berkat topangan dari saham BBRI, BRPT, dan SRAJ yang berhasil bertahan di zona hijau. Di sisi global, indeks Nasdaq di Amerika Serikat juga terpantau rontok hingga 2,22 persen.

Meski pasar global bergejolak, Indonesia tetap mempertahankan statusnya sebagai Emerging Market menurut tinjauan klasifikasi pasar 2026 dari MSCI. Hal ini didukung oleh perbaikan transparansi pasar modal RI yang terus dipantau ketat hingga November 2026.

Selain RANS, perhatian investor hari ini juga tertuju pada PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA). Emiten ini mengumumkan komitmennya untuk membagikan dividen tunai tahun buku 2025 dengan total nilai Rp895,80 miliar atau setara Rp52 per lembar saham.

Menariknya, nilai dividen ini melampaui capaian laba bersih ESSA tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp713,93 milar. Untuk menutup selisih Rp181,87 miliar tersebut, manajemen ESSA memutuskan mengambil dana dari saldo laba ditahan perusahaan. Dividen manis ini dijadwalkan cair ke rekening investor pada 15 Juli 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *