Rekam24.com, Jakarta – Merekabnya infeksi saluran pernapasan di sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini kembali memicu kewaspadaan masyarakat. Salah satu pemicu utamanya adalah lompatan kasus Influenza A. Di Kota Bandung, Jawa Barat, lonjakan pasien yang mengeluhkan gejala flu bahkan mulai memadati fasilitas kesehatan hingga ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Dinas Kesehatan Kota Bandung mengonfirmasi adanya tren kenaikan kunjungan warga akibat gangguan pernapasan ini. Kondisi serupa juga terpotret dalam skala nasional.
Berdasarkan data pemantauan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) periode Agustus hingga September 2026, angka keterpaparan (positivity rate) sampel surveilans sentinel influenza melonjak hingga 56%. Dari 265 sampel spesimen yang diperiksa, sebanyak 148 di antaranya terkonfirmasi positif virus flu.
Pihak otoritas menegaskan bahwa persentase 56% tersebut merujuk pada proporsi sampel medis yang diperiksa melalui sistem pemantauan, bukan mewakili separuh total populasi Indonesia.
Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa Influenza A subtipe H1N1 (A/H1N1pdm09) menjadi strain yang paling dominan menginfeksi saat ini.
Kendati ada lonjakan laporan, Kemenkes mencatat tingkat penularan di puskemas masih tergolong dalam taraf sedang (medium), sedangkan angka rawat inap di rumah sakit masih aman di kategori rendah. Lonjakan yang terjadi pada kuartal ketiga tahun ini juga dinilai masih selaras dengan pola fluktuasi musiman yang lazim terjadi di Tanah Air.
Baca Juga : Kebakaran Hebat di Megamendung Bogor Hanguskan SDN Pasir Angin 1 dan Rumah Warga
Meskipun kerap dianggap sebagai flu biasa, Influenza A bukanlah patogen baru. Virus ini memiliki sejarah panjang yang mengitari kehidupan manusia selama lebih dari satu abad dan beberapa kali memicu krisis kesehatan global.
Influenza adalah gangguan infeksi akut pada organ pernapasan. World Health Organization (WHO) mengategorikan virus influenza ke dalam empat kelompok utama: A, B, C, dan D. Di antara keempatnya, tipe A dan B merupakan biang kerok utama epidemi flu tahunan yang kerap menyerang masyarakat.
Khusus untuk Influenza A, pengelompokannya dibagi lagi ke dalam beberapa subtipe berdasarkan kombinasi protein luar virus, yakni Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N). Saat ini, dua subtipe yang paling aktif menular pada manusia adalah A(H1N1) dan A(H3N2).
Baca Juga : Pengendara Satria FU Tewas dalam Kecelakaan di Cileungsi-Jonggol
Gejala umum yang sering dirasakan penderita meliputi, Demam tinggi dan tubuh menggigil, Nyeri otot dan persendian, Sakit kepala hebat, Rasa mual serta lemas yang ekstrem
Penularannya terbilang sangat cepat, terutama melalui droplet percikan udara saat pasien batuk atau bersin. Walau sebagian besar penderita bisa pulih secara mandiri, infeksi ini berisiko memicu komplikasi berat jika menyerang kelompok rentan seperti balita, lansia, atau individu dengan penyakit penyerta (komorbid).
Rekam Jejak Pandemi Influenza A dalam Sejarah Dunia
Guna memahami sifat mutasi dan ancamannya, berikut adalah kilas balik perjalanan panjang virus Influenza A dalam meretas sejarah peradaban manusia:
1. Flu Spanyol / Spanish Flu (1918)
Pandemi terbesar dalam sejarah modern ini dipicu oleh mutasi A(H1N1). WHO mencatat sekitar 500 juta jiwa—atau sepertiga populasi bumi saat itu—terinfeksi. Angka kematiannya sangat fantastis, diperkirakan mencapai 20 hingga 50 juta jiwa, melebihi total korban jiwa pada Perang Dunia I. Gelombang kedua wabah ini tercatat paling mematikan karena terjadi sebelum teknologi medis mampu mengidentifikasi wujud asli virus tersebut.
2. Penemuan Pertama Virus Influenza (1933)
Kejelasan mengenai penyebab flu baru terkuak pada tahun 1933 berkat riset tiga peneliti Inggris: Wilson Smith, C.H. Andrewes, dan P.P. Laidlaw. Penemuan ini membantah teori lama yang menganggap flu disebabkan oleh bakteri. Pasca-penemuan ini, vaksinasi mulai dikembangkan hingga akhirnya izin penggunaan vaksin flu massal diterbitkan pada 1945. Kemampuan mutasi virus yang cepat mendorong WHO membentuk jaringan Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) pada 1952 untuk memantau perubahan strain virus secara real-time.
3. Flu Asia / Asian Flu (1957)
Dunia kembali dihantam pandemi akibat kemunculan strain baru Influenza A(H2N2). Wabah ini merenggut antara 1 hingga 4 juta jiwa secara global dan membuka mata dunia medis akan fleksibilitas virus influenza dalam membentuk subtipe baru yang kebal terhadap imun masyarakat.
4. Flu Hong Kong / Hong Kong Flu (1968)
Satu dekade berselang, subtipe A(H3N2) muncul dan memicu pandemi global berikutnya dengan estimasi korban jiwa mencapai 1–4 juta orang. Berbeda dengan strain H2N2 yang menghilang, keturunan dari virus H3N2 ini terus berevolusi dan bertahan hingga detik ini sebagai salah satu pemicu utama flu musiman di seluruh dunia.
5. Flu Babi / Swine Flu (2009)
Pandemi influenza pertama di abad ke-21 meletus saat varian baru A(H1N1)pdm09 menyebar cepat ke berbagai belahan dunia. Dalam tahun pertamanya, virus ini merenggut 100.000 hingga 400.000 jiwa. Berbeda dari epidemi biasa yang menyasar lansia, Flu Babi tahun 2009 berdampak signifikan pada anak-anak dan orang dewasa muda.






