Di Balik Tagline ‘Beres’, Kota Bogor Masih Banjir dan Memakan Korban Jiwa

i balik derasnya hujan, tersingkap rapuhnya sistem tata kelola kota dan kebijakan yang dinilai gagal menyentuh akar persoalan.

Rekam24.com, Bogor – Banjir yang terus mengepung Kota Bogor kini bukan lagi sekadar fenomena alam. Di balik derasnya hujan, tersingkap rapuhnya sistem tata kelola kota dan kebijakan yang dinilai gagal menyentuh akar persoalan.

Narasi klasik mengenai “curah hujan tinggi” tak lagi relevan untuk menutupi kelemahan infrastruktur. Saat ruang resapan hilang dan air tak lagi memiliki jalur mengalir, banjir menjadi konsekuensi mematikan yang tak terelakkan.

Sekretaris BEM FISIP Universitas Djuanda, Mochamad Daffa, menyoroti perubahan wajah kota yang kian mengkhawatirkan. Alih fungsi lahan masif dan penyusutan kawasan resapan menjadi bom waktu yang kini mulai meledak.

Baca Juga : Desak Tambang Berizin Segera Dibuka, Bupati Bogor Tegaskan Prioritas Lingkungan dan Solusi Jalan Khusus

“Sistem drainase kita belum mampu mengimbangi laju pembangunan. Kombinasi ini menciptakan kondisi rawan yang terus berulang,” ujar Daffa, Senin (04/05/2026).

Di tengah situasi ini, tagline pemerintah daerah, Bogor Beres, justru memicu kritik pedas. Masyarakat kini mulai memplesetkannya menjadi Bogor Teu Beres-Beres—sebuah ungkapan kekecewaan atas masalah menahun yang tak kunjung usai.

Kritik ini kian memuncak menyusul tragedi ambrolnya Tembok Penahan Tanah (TPT) di Kampung Muara, Kelurahan Pasir Jaya, Bogor Barat, yang memakan korban jiwa. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa ada pengawasan yang abai.

Baca Juga : Rangkaian HUT Ke-50 Tahun, Summarecon Perluas Program Operasi Katarak Gratis ke Bogor

“Kami mempertanyakan kinerja Pemerintah Kota Bogor. Sejauh mana kebijakan dijalankan secara konsisten? Aturan tata ruang hanya jadi dokumen tanpa daya jika penegakan hukumnya tumpul,” tegas Daffa.

Ia juga menekankan bahwa menyalahkan perilaku buang sampah sembarangan masyarakat hanyalah penyederhanaan masalah. Masalah utamanya adalah ketimpangan pembangunan yang mengabaikan keselamatan warga di kawasan rentan.

Daffa mendesak Pemkot Bogor untuk mengambil langkah berani: melakukan penataan ruang yang disiplin, melindungi kawasan resapan secara absolut, dan mengintegrasikan sistem drainase secara menyeluruh.

“Keselamatan warga harus jadi prioritas utama. Jangan sampai warga dihantui rasa takut setiap kali hujan mengguyur. Selama akar masalahnya dibiarkan, maka ‘Bogor Teu Beres-Beres’ akan terus jadi kenyataan yang pahit,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *