Rekam24.com, Bogor – Berawal dari potensi lokal dan inisiatif masyarakat, Kampung Eduwisata Greenomic di Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, terus berkembang menjadi kawasan pemberdayaan masyarakat berbasis edukasi, ketahanan pangan, pengelolaan sampah, hingga keamanan lingkungan. Rabu (4/11/2026).
Lurah Tegallega, Hardi Suhardiman, mengatakan, Kampung Eduwisata Greenomic merupakan gabungan berbagai inovasi masyarakat yang tumbuh di sejumlah RW. Program tersebut mengedepankan edukasi agar masyarakat dapat belajar sekaligus terlibat langsung dalam kegiatan produktif di lingkungan tempat tinggalnya.
Salah satu inovasi yang dikembangkan berada di KTD Lembur Hejo 2, kawasan Taman Bogor Baru. Area taman yang sebelumnya kurang termanfaatkan dan kerap dijadikan tempat pembuangan sampah, kini disulap menjadi lokasi budidaya tanaman hidroponik.
Menurut Hardi, pengembangan kawasan tersebut mendapat dukungan fasilitas dari Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Tenaga Kerja Kota Bogor, berupa pembangunan greenhouse, pembibitan, serta pelatihan budidaya hidroponik mulai dari proses penanaman hingga panen. Bahkan, kelompok tersebut telah dua kali melakukan panen, termasuk panen jagung.
Baca Juga : Momen Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli di Sidang, Roy Suryo Tertangkap Kamera Hanya Bisa Tertawa
Inovasi lainnya hadir di RW 6 melalui Kelompok Taruna Tani yang seluruh anggotanya merupakan anak-anak muda. Kelompok ini bergerak dalam bidang ketahanan pangan perkotaan dengan mengembangkan tanaman hidroponik dan telah beberapa kali melaksanakan panen.
Di wilayah yang sama, masyarakat juga mengembangkan taman bacaan masyarakat. Keberadaan fasilitas ini menjadi ruang alternatif bagi anak-anak untuk menghabiskan waktu, khususnya saat akhir pekan. Tidak hanya anak-anak, para ibu juga dapat memanfaatkan taman bacaan untuk belajar. Menariknya, koleksi buku yang tersedia berasal dari sumbangan masyarakat.
Selain itu, RW 6 juga tengah mengembangkan pembibitan lobster lokal melalui kerja sama dengan Karang Taruna Kelurahan Tegal Gundil.
Baca Juga : Basket Putri Kabupaten Bogor Menunggu Lawan di Delapan Besar
Sementara itu, di RW 7 terdapat Bank Sampah Unit Sakura yang dikelola oleh kelompok ibu-ibu, termasuk warga lanjut usia. Keterbatasan lahan tidak menyurutkan semangat mereka untuk menjalankan kegiatan pengelolaan sampah. Bahkan, aktivitas pemilahan sampah dilakukan di area pemakaman masyarakat.
Saat ini, Bank Sampah Unit Sakura telah memiliki lebih dari 100 nasabah, dengan jumlah sekitar 115 orang. Masyarakat yang menyetorkan sampah pun sudah melakukan pemilahan dari rumah masing-masing sebelum dibawa ke bank sampah.
Adapun inovasi di RW 9 dikenal dengan Kampung CCTV. Berawal dari penyediaan Wi-Fi publik hasil swadaya masyarakat pada 2021, saat pandemi Covid-19, kawasan Babakan Ciena RW 9 kini berkembang menjadi lingkungan dengan sistem pemantauan keamanan berbasis teknologi.
Baca Juga : Resmi Dilantik, FPK Kota Bogor Siap Jadi Rumah Bersama 26 Paguyuban Etnis
Hardi menyebutkan, saat ini terdapat 20 titik CCTV yang dapat dipantau secara real-time melalui telepon genggam masyarakat. Fasilitas tersebut dilengkapi dengan Wi-Fi publik, akses internet di rumah warga, serta perangkat strobo dan pengeras suara.
Pengembangan sistem keamanan tersebut merupakan hasil kolaborasi RT, RW, masyarakat, dan penyedia layanan internet Asnet.
Dengan fasilitas tersebut, masyarakat dapat memantau kondisi lingkungan sekaligus menyebarkan informasi apabila terjadi suatu kejadian. Bahkan, CCTV dapat dimanfaatkan untuk membantu orang tua mencari keberadaan anak-anak mereka.
Berbagai inovasi tersebut kemudian disatukan dalam konsep Kampung Eduwisata Greenomic. Hardi menjelaskan, program ini tidak semata-mata berorientasi pada wisata, tetapi lebih mengutamakan edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui ketahanan pangan, pengolahan sampah, serta pengembangan potensi lokal.
Baca Juga : Basket Putri Kabupaten Bogor Menunggu Lawan di Delapan Besar
Meski memiliki beragam kegiatan, sebagian besar pengembangan Kampung Eduwisata Greenomic justru masih mengandalkan swadaya masyarakat.
Hardi mengungkapkan, hingga saat ini belum ada alokasi anggaran pemerintah yang secara khusus diperuntukkan bagi pengembangan Kampung Eduwisata Greenomic. Dukungan pemerintah yang sudah diterima masih terbatas pada beberapa fasilitas dan kegiatan tertentu.
“Kalau bisa dibilang, bantuan pemerintah paling hanya satu persen. Selebihnya swadaya masyarakat. Untuk Kampung Eduwisata Greenomic sendiri, kami belum mendapatkan anggaran khusus,” ungkap Hardi.
Ia menjelaskan, pemerintah kota sebenarnya telah mengetahui keberadaan program tersebut melalui laporan lisan kepada pihak kecamatan, Bappeda, dan pimpinan daerah. Namun, pengajuan secara formal masih perlu dipersiapkan, terutama terkait pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) serta aspek regulasi dan legalitasnya.
Meski demikian, Kecamatan Bogor Tengah berencana mendorong Kampung Eduwisata Greenomic menjadi salah satu inovasi kecamatan untuk mengikuti ajang Bogor Innovation Award 2027.
Dari sisi ekonomi, Hardi menilai keberadaan Kampung Eduwisata Greenomic telah memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kunjungan masyarakat ke kawasan tersebut dinilai turut membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Walaupun dampaknya belum dapat diukur secara signifikan melalui angka, manfaatnya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ke depan, Hardi menargetkan adanya pembenahan tata kelola Kampung Eduwisata Greenomic agar seluruh potensi dan kegiatan yang ada dapat terhubung dengan lebih baik.
Hal tersebut juga tengah disusunnya sebagai bagian dari laporan aksi perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) yang sedang diikutinya.
Ia berharap Pemerintah Kota Bogor dapat memberikan dukungan lebih besar, terutama ketika proses pengajuan regulasi dan legalisasi Kampung Eduwisata Greenomic mulai dilakukan.
Menurutnya, program ini merupakan bentuk nyata kemandirian dan pemberdayaan masyarakat perkotaan yang sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan serta visi pembangunan Kota Bogor.
“Kami berharap ke depannya pemerintah bisa lebih membantu program Kampung Eduwisata ini. Harapannya, ketika kami mengajukan regulasi dan legalisasi, bisa dibantu agar Kampung Eduwisata Greenomic semakin tertata dan lebih dikenal masyarakat luas,” pungkasnya.







