Rekam24.com, Bogor – Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor terus mempercepat penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kabupaten Bogor.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Fusia Mediawaty mengatakan, saat ini sebagian besar SPPG sudah menjalani proses menuju penerbitan SLHS, meski belum seluruhnya rampung.
“Untuk terbit SLHS itu membutuhkan waktu. Di aturan Badan Gizi Nasional, SPPG diperbolehkan beroperasi dulu sambil langsung mengurus SLHS, dan diberikan waktu maksimal tiga bulan untuk menyelesaikannya,” ujar Fusia.
Ia menjelaskan, Dinkes Kabupaten Bogor melalui puskesmas di setiap wilayah melakukan sistem jemput bola terhadap SPPG baru. Petugas puskesmas langsung memberikan daftar persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan SLHS.
Baca Juga : Jalur Menuju Lembah Sunyi Mandalawangi, Perjuangan Dan Ringkih
“Begitu ada calon SPPG, petugas puskesmas jemput bola memberikan list persyaratan yang harus dipenuhi. Jadi sambil membangun, sambil menyiapkan persyaratan,” jelasnya.
Menurut Fusia, proses penerbitan SLHS memang membutuhkan tahapan cukup panjang. Mulai dari pelatihan keamanan pangan siap saji (PKPSS), pemeriksaan laboratorium SWEP, hingga inspeksi kesehatan lingkungan.
“Karena itu butuh waktu, maka kita dampingi terus melalui puskesmas agar persyaratan cepat terpenuhi,” katanya.
Berdasarkan data terbaru awal pekan ini, tercatat terdapat 638 SPPG di Kabupaten Bogor. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen sudah mengantongi SLHS.
Baca Juga : Kado Hari Jadi Bogor, 544 Anak Kembali Bersekolah Gratis Lewat PKBM
Sementara itu, untuk tahapan awal berupa pelatihan PKPSS, capaian sudah mencapai sekitar 85,58 persen atau sekitar 86 persen.
“Yang sudah PKPSS akan terus kita dampingi supaya persyaratan lain cepat terpenuhi. Karena Pak Bupati juga ingin ada percepatan penerbitan SLHS,” ungkap Fusia.
Saat ditanya kemungkinan pelaporan ke Badan Gizi Nasional (BGN) jika ada SPPG yang belum mengurus SLHS hingga batas waktu tiga bulan, Fusia optimistis hal tersebut tidak terjadi.
“Insyaallah mudah-mudahan nggak sampai begitu. Karena sebenarnya semua SPPG ini kooperatif. Hanya ada yang sudah paham dan ada yang belum paham. Maka tugas kami jemput bola dan memberikan penjelasan,” tutupnya.









