Rekam24.com, Bogor – Hamparan edelweis setinggi orang dewasa seolah melambaikan tangan menyambut ketibaan para pendaki setelah melalui track yang menguji nyali.
Padang keabadian yang tumbuh subur di atas savana merupakan lembah sunyi bernama Mandalawangi.
Fajar perlahan menyingsing, langkah kaki berjalan diatas makadam tanpa meninggalkan tapak.
Menit demi menit berlalu hingga berjam jam ditempuh untuk menuju lembah sunyi halaman belakang puncak pangrango.
Pukul 09.24 WIB, Sabtu (9/5/2026) langkah kaki tepat berada di papan pemberitahuan Kandang Badak.
Disinilah perjuangan itu dimulai, kiri menuju Puncak Gunung Gede dan Suryakancana, Kanan Menuju Pangrango Lembah Mandalawangi.
Awal mula pendakian track cukup landai hingga 15 menit melangkah pendaki akan disuguhkan dengan tanjakan berakar.
Disini semua pendaki masih bersemangat hingga 30 menit berlalu rupanya tak ada jalur landai.
Baca Juga : Kado Hari Jadi Bogor, 544 Anak Kembali Bersekolah Gratis Lewat PKBM
Peluh keringat, ringkih keluh, hingga isak tangin dalam tundukan kepala ada di jalur ini.
“Aku nggak tau kuat atau enggak, turun jauh, ke puncak juga masih jauh,” suara lirih dari seorang pendaki perempuan kepada satu tim pendakianya.
Disisi lain seorang pria membawa beban berat sekitar 30 kilogram dalam karirnya tetap melangkah.
Perlahan namun Ia tetap yakin pada apa yang dilakoninya.
Sementara itu tak jauh dari jarak pandang seorang anak SMP duduk termenung. Matanya sayup melirik setiap pendaki yang melangkah menanjak menuju puncak.
Baca Juga : DPRD Kota Bekasi Mediasi Sengketa Yayasan Syifa Budi dan Darul Muqomah
“Kayanya kita bakal trauma, sudah 2 jam nanjak tapi belum sampai puncak,” keluhnya sembari melihat persediaan air.
Gunung Gede Pangrango sering disebut gunung yang cocok untuk pemula. Namun banyak juga yang terpaksa kembali turun.
Jika dilihat dari situasi dan kondisi jalur pendakian Gunung Gede Pangrango memang cocok untuk pemula sebab mereka tidak harus membuka jalur atau tidak selalu paham navigasi darat atau peta kompas.
Meski demikian persiapan fisik menjadi utama untuk bisa mencapai puncak ini.
Navigasi darat memang sering kali tidak menjadi tumpuan utama oleh para pendaki terkini, namun bagi para Mapala atau PA navigasi darat mutlak setidaknya bisa melaksanakan orientasi medan (ormed).
Baca Juga : DPRD Kota Bekasi Mediasi Sengketa Yayasan Syifa Budi dan Darul Muqomah
Para pendaki yang mendaki menuju Gunung Pangrango memang sering terbuai dengan jawaban ‘hanya 2 jam menuju puncak’ walau kenyataanya ada yang bisa mencapai waktu tiga jam bahkan empat hingga lima jam tergantung kondisi fisik dan tim.
Puncak Pangrango tidak memiliki view terbuka seperti Puncak Gede yang langsung menghadap kawah yang menganga.
Namun disitulah letak keunikan pangrango, sebab jika hanya ingin mencari view maka pendaki akan menuju Puncak Gede, namun jika ingin mencari ketenangan dan kesunyian pendaki bisa menuju Puncak Pangrango.
Puncak Pangrango bukanlah tujuan akhir para pendaki, namun hanya tempat singgah karena tujuan utamanya adalah Lembah Sunyi Padang Keabadian Mandalawangi.
Tempat ini seakan memiliki magnet tersendiri bagi para pendaki. Meski tak seluah Suryakancana namun Mandalawangi memberikan ketenangan yang sejati.









