Rekam24.com, Bogor – Rencana peningkatan kapasitas intake Pasir Angin oleh Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor menuai sorotan tajam. Proyek yang bertujuan memperluas akses air bersih bagi masyarakat ini dinilai berpotensi mengancam ekosistem Sungai Ciliwung, terlebih jika pembendungan dan penyedotan air skala besar dilakukan di tengah musim kemarau.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi sepadan dan bantaran sungai yang belum dikelola secara optimal, memicu kekhawatiran terjadinya kekeringan yang lebih parah di aliran hilir. Di era modern, publik menuntut tata kelola air yang profesional tanpa harus mengorbankan stabilitas alam.
Ketua Komisi II DPRD Kota Bogor, Abdul Kadir Hasbi Alatas, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan air bersih warga adalah langkah yang baik, namun aspek lingkungan tidak boleh dinomorduakan.
Baca Juga : Proyek Jalan PSEL Dikritik, Dinas PUPR Kota Bogor Buka Suara
“Kami melihat peningkatan intake Pasir Angin ini tentu bertujuan untuk meningkatkan pelayanan air bersih kepada masyarakat. Itu hal yang baik. Namun, yang juga perlu dipastikan adalah jangan sampai upaya meningkatkan pelayanan justru mengorbankan aspek lingkungan. Apalagi jika sedang musim kemarau, ketika debit Sungai Ciliwung relatif lebih rendah,” ujar Abdul Kadir Hasbi Alatas.
Beliau mendesak Perumda Tirta Pakuan untuk bersikap transparan mengenai AMDAL dan manajemen risiko proyek ini.
Baca Juga :
“Karena itu, Perumda Tirta Pakuan perlu menjelaskan dengan terbuka apakah sudah ada kajian mengenai dampak ekologisnya, bagaimana pengaturan debit air agar ekosistem sungai tetap terjaga, serta apa langkah mitigasi yang dilakukan selama proses pekerjaan berlangsung,” tambahnya.
Masyarakat kini menunggu komitmen nyata dari pihak berwenang agar modernisasi infrastruktur air di Kota Bogor tidak menjadi bumerang bagi ekologi sungai yang tersisa.







