.2
Rekam24.com, Jakarta – Sebuah meteor berukuran besar meledak di atmosfer di atas wilayah timur laut Amerika Serikat pada Sabtu (30/5/2026) pukul 14.06 waktu setempat. Ledakan ini memicu gelombang kejut linear dan dentuman sonik ganda (double sonic boom) yang cukup kuat hingga menggetarkan bangunan warga.
Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) mengonfirmasi bahwa batuan antariksa alami tersebut melaju dengan kecepatan ekstrem mencapai 120.700 kilometer per jam. Objek tersebut kemudian hancur menjadi beberapa bagian pada ketinggian sekitar 64 kilometer di atas perbatasan Massachusetts timur laut dan New Hampshire tenggara.
Energi yang dilepaskan saat meteor sporadis sisa pembentukan tata surya ini hancur diperkirakan setara dengan 300 ton bahan peledak TNT. Pancaran energinya sempat terekam oleh satelit GOES-19 milik NOAA dan memicu ratusan laporan warga ke U.S. Geological Survey (USGS) karena getaran udara yang menyerupai gempa bumi.
Baca Juga : Ancol Gratiskan Tiket Masuk Sambut HUT Jakarta, Ini Syaratnya
Pemantau program American Meteor Society (AMS), Robert Lunsford, menjelaskan bahwa pihaknya menerima puluhan laporan penampakan bola api terang pada siang hari dari wilayah Delaware hingga Montreal, Kanada.
“Itu jelas lebih besar daripada bola api biasa, ukurannya sekitar 0,9 meter,” kata Lunsford.
Meskipun ukuran awal meteor sebelum memasuki atmosfer diperkirakan mencapai 6 meter oleh Pusat Studi Objek Dekat Bumi (CNEOS), Lunsford menambahkan bahwa material tersebut kemungkinan besar telah habis terbakar di udara.
“Kami memerlukan lebih banyak informasi mengenai lintasan, kecepatan, dan aspek lainnya untuk mengetahui secara pasti apakah meteor itu mencapai permukaan tanah. Namun, jika tidak terbakar habis, kemungkinan besar meteor itu jatuh ke laut,” ujarnya.
CEO AMS, Carl W. Hergenrother, menambahkan bahwa cuaca berawan di Boston membuat warga tidak bisa melihat proses terbakarnya batuan tersebut secara jelas. Ia juga meluruskan persepsi publik yang sering dipengaruhi oleh dramatisasi film fiksi ilmiah.
Baca Juga : Soft Opening JPO Skybridge Cibinong, Bupati Bogor Pastikan Aman dan Ramah Disabilitas
“Dalam film, meteor jatuh ke permukaan Bumi dan menciptakan kawah besar yang berasap. Dalam kenyataan, kita hanya akan melihat batuan hitam muncul di tempat yang sebelumnya tidak ada,” kata Hergenrother.
Peneliti CNEOS NASA, Dr. Paul Chodas, menyatakan bahwa ledakan bolide (meteor yang meledak di atmosfer) dengan energi di atas 100 ton TNT sebenarnya terjadi 1-2 kali setahun, namun biasanya terjadi di atas lautan luas.
“Ini adalah objek sporadis, artinya berasal dari sisa debu pembentukan tata surya yang terlempar dari sabuk asteroid utama,” ujar Chodas. Menurutnya, ukuran meteor kali ini masih terlalu kecil untuk bisa diantisipasi oleh sistem pertahanan antariksa Bumi yang ada sekarang.
“Ukuran ini terlalu kecil untuk dideteksi sistem peringatan dini kami sebelum memasuki atmosfer, karena redup dan bergerak cepat,” imbuh Chodas.
Peristiwa ini menjadi landasan kuat bagi NASA untuk merealisasikan misi pengawasan objek dekat bumi yang lebih komprehensif di masa depan. “Insiden New England ini mengingatkan kita bahwa masih banyak objek kecil di luar sana yang belum kita lacak,” kata Chodas.
Baca Juga : LBH-Lekraf BAS Resmikan Kantor Baru untuk Layanan Hukum Gratis dan UMKM
Kepanikan sempat melanda pemukiman urban, termasuk di wilayah Watertown, pinggiran Boston, saat kaca-kaca jendela bergetar keras secara tiba-tiba.
Warga Watertown, Sarah Miller, menceritakan pengalamannya saat sedang merapikan halaman rumah ketika dentuman keras itu terjadi. “Saya langsung lari ke dalam rumah, mengira ada ledakan di jalan raya terdekat,” ujar Miller.
Meskipun sempat merasa takut, ia menilai fenomena kilatan bola api raksasa tersebut merupakan pemandangan alam yang sangat langka. Miller bersyukur karena peristiwa alam tersebut tidak sampai menimbulkan kerusakan fisik pada bangunan di lingkungan tempat tinggalnya.
Hingga saat ini, pihak berwenang setempat memastikan tidak ada laporan kerusakan properti maupun korban luka. Badan Keamanan Publik Massachusetts memastikan seluruh layanan darurat dan medis tidak menerima panggilan darurat terkait dampak langsung dari ledakan atmosfer tersebut.
Wakil Kepala Berita NASA, Jennifer Dooren, memberikan penegasan resmi untuk meredam spekulasi liar di media sosial mengenai asal-usul ledakan tersebut.
“Objek ini tidak terkait dengan hujan meteor aktif saat ini, melainkan objek alami dan bukan puing-puing satelit yang masuk kembali ke atmosfer,” tegas Dooren.
Hingga kini, belum ada laporan mengenai penemuan sisa fragmen meteorit di daratan, baik oleh warga maupun tim peneliti lapangan. “Fragmen ini mungkin masih mengandung sisa panas, jadi jangan disentuh langsung jika menemukannya,” imbau Dooren.









