Sokong Swasembada Pangan Era Prabowo, Pengurus ASBENINDO 2026-2031 Resmi Dilantik

ASBENINDO resmi mengukuhkan jajaran pengurus baru untuk periode 2026-2031, sekaligus menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

Rekam24.com, Bogor – Asosiasi Perbenihan Indonesia (ASBENINDO) resmi mengukuhkan jajaran pengurus baru untuk periode 2026-2031, sekaligus menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) guna merumuskan rekomendasi strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional di IPB Internasional Convention Center, Kota Bogor pada Rabu (1/7/2026).

Dalam estafet kepemimpinan baru ini, Ir. Ayub Darmanto resmi dilantik sebagai Ketua Umum, didampingi oleh Dadan selaku Sekretaris Jenderal. Sinergi baru ini diharapkan mampu membawa asosiasi melangkah lebih maju dalam memperkuat industri perbenihan di dalam negeri.

Ketua Umum ASBENINDO, Ir. Ayub Darmanto, menegaskan komitmen penuh asosiasi untuk menyokong program swasembada pangan yang tengah digalakkan oleh pemerintah. Dengan kekuatan sekitar 32 anggota, ASBENINDO berfokus pada penyediaan benih unggul berkualitas tinggi yang mampu menjawab tantangan di sektor pertanian.

Baca Juga : Pejalan Kaki Tertemper Kereta Api di Sukaraja, Dilarikan ke RSUD Ciawi

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung program pemerintah, terutama dalam menjaga swasembada pangan yang saat ini sudah berjalan. Yang terpenting, bagaimana masalah-masalah pertanian salah satunya bisa dipecahkan lewat benih yang unggul,” ujar Ayub.

Ayub juga menyoroti kondisi pasar perbenihan saat ini yang cukup bervariasi. Harga benih padi mengalami kenaikan seiring tingginya harga beras konsumsi di pasar, sehingga ASBENINDO tengah mengajukan peninjauan kembali terhadap regulasi harga benih serta subsidi bagi petani.

Sementara itu, harga benih jagung relatif stabil karena pasar dinilai mampu menyerap produksi dengan baik, sehingga tercipta keseimbangan yang ideal antara harga input dan hasil produksi petani.

Baca Juga : Doni Hutabarat Soroti Pendidikan dan Kesehatan di Kabupaten Bogor, Minta Peran Pemerintah Diperkuat

Di sisi lain, benih sayuran mengalami sedikit fluktuasi akibat pelemahan mata uang global, meski pasokan dan ketersediaannya di dalam negeri dipastikan tetap aman.

Guna menghadapi tantangan ke depan, Ayub menekankan pentingnya kolaborasi antar-asosiasi serta pelibatan institusi perguruan tinggi untuk memacu riset varietas baru agar mampu bersaing dengan produk luar negeri.

Sementara itu, Dewan Pembina ASBENINDO sekaligus Ketua Umum Masyarakat Perbenihan dan Pembibitan Indonesia (MPPI), Dr. E. Herman Khaeron, menyampaikan bahwa benih bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi dari peradaban dan instrumen pertahanan sebuah negara.

Herman menilai, masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto merupakan momentum emas bagi sektor pertanian, mengingat latar belakang sang Presiden yang pernah memimpin HKTI dan memiliki kedekatan kuat dengan entitas petani.

Baca Juga : Doni Hutabarat Soroti Pendidikan dan Kesehatan di Kabupaten Bogor, Minta Peran Pemerintah Diperkuat

“Ini adalah momentum. Kita tidak hanya harus mencapai swasembada atas produksi, tetapi harus swasembada dalam berbagai instrumennya: swasembada benihnya, swasembada pupuknya, hingga swasembada pemberantasan hamanya,” tegas Herman.

Untuk mencapai target swasembada berkelanjutan tersebut, Herman menegaskan pentingnya pengintegrasian lima elemen utama, yakni pemerintah sebagai regulator sekaligus penyedia stimulus anggaran melalui APBN, perguruan tinggi (akademisi) sebagai penggerak riset untuk menghasilkan inovasi benih yang lebih unggul, pelaku usaha sebagai pendorong investasi dan akselerasi produksi secara masif di lapangan, komunitas sebagai wadah kolaborasi bagi kelompok tani dan komunitas pertanian, serta media sebagai saluran krusial untuk menyebarkan informasi dan mengedukasi publik mengenai target ketahanan pangan.

Lebih lanjut, Herman menjabarkan tiga instrumen taktis yang dapat ditempuh oleh pengurus baru ASBENINDO bersama para pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan keterbatasan lahan, yakni mendorong pemanfaatan benih hibrida yang terbukti mampu meningkatkan hasil panen dari rata-rata 5 ton per hektare pada benih inbrida menjadi 10–12 ton per hektare melalui perawatan dan pemupukan yang presisi, melakukan perluasan areal pertanian guna mendongkrak volume produksi nasional apabila intensifikasi belum mencukupi, serta mendorong diversifikasi pangan agar masyarakat tidak bergantung pada beras semata, dengan mengembangkan komoditas alternatif bernilai ekonomi tinggi seperti porang, sorgum, hanjeli, ubi, singkong, hingga beras tiruan (artificial rice) yang kaya gizi namun rendah gula.

Melalui sinergi Rakernas ini, ASBENINDO optimistis dapat menempatkan industri perbenihan domestik sebagai pilar utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional yang mandiri dan berkelanjutan. (Maya Melina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *