Target Operasional 2028, Kota Bogor Integrasikan PSEL dan IPAL Skala Kota

Pemerintah Kota Bogor tengah mempercepat transformasi pengelolaan sampah dari sistem konvensional open dumping menuju teknologi ramah lingkungan melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL)

Rekam24.com, Bogor  – Pemerintah Kota Bogor tengah mempercepat transformasi pengelolaan sampah dari sistem konvensional open dumping menuju teknologi ramah lingkungan melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Langkah strategis ini diambil guna memastikan penanganan sampah tuntas dari hulu hingga hilir.

Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menjelaskan bahwa proyek ini difokuskan pada dua lokasi utama. Pertama, PSEL Galuga di Kecamatan Cibungbulang yang memiliki kapasitas hingga 1.500 ton per hari. Lokasi ini ditargetkan berhenti menerapkan sistem open dumping pada Juni 2026 untuk beralih sepenuhnya ke pengelolaan modern.

Kedua, PSEL Kayumanis yang saat ini masih dalam tahap pengajuan. Dari total lahan 12 hektar di Kayumanis, sekitar 6 hingga 7 hektar akan dimanfaatkan untuk fasilitas pengolahan sampah berkapasitas 1.000 ton per hari.

Baca Juga : Volume Sampah Jalan Pedati Turun Drastis, Pemkot Bogor Wacanakan Bangun Pasar di Perbatasan

Menariknya, di wilayah Kayumanis, fasilitas PSEL akan diintegrasikan dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal skala kota seluas 2 hingga 2,5 hektar. Proyek IPAL ini bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui sistem pipanisasi terpadu.

“Ke depan, tidak ada lagi penggunaan septic tank di rumah-rumah; semua limbah akan dialirkan melalui pipa untuk diolah. Ini adalah langkah nyata agar kita tidak lagi mencemari tanah dan mencegah timbulnya penyakit,” ujar Dedie, Rabu (22/4/26).

Pemerintah pusat memberikan tenggat waktu ketat untuk penyelesaian administrasi. Untuk PSEL Kayumanis, Pemkot Bogor diminta merampungkan seluruh dokumen dalam waktu tujuh minggu agar proyek dapat segera berjalan.

Baca Juga : Urai Macet Surken! Pemkot Bogor Permanenkan Parkir Sisi Kanan Jalan Suryakencana

Meski infrastruktur hilir ditargetkan resmi beroperasi pada Januari 2028, Dedie menegaskan bahwa partisipasi masyarakat di hulu tetap menjadi kunci. Warga diimbau mulai memilah sampah rumah tangga secara mandiri.

“Sambil menunggu PSEL beroperasi penuh, kita optimalkan sampah organik untuk pupuk atau pakan ternak. Edukasi di tingkat RT/RW, kelurahan, hingga kecamatan harus diperkuat agar sampah yang masuk ke PSEL benar-benar siap diolah menjadi energi listrik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *