Rekam24.com, Jakarta – Aktris Rachel Amanda menyampaikan rasa duka mendalam atas tragedi memilukan yang menimpa para pejuang nafkah perempuan baru-baru ini.
Sebagaimana diketahui kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur tersebut diketahui merenggut nyawa 15 orang, yang seluruh korbannya merupakan kaum perempuan.
Rachel Amanda sangat terpukul mendengar kabar tersebut, terlebih para korban diduga adalah para pekerja yang tengah berjuang demi keluarga.
“Turut berduka gitu dengan teman-teman perempuan gitu yang mungkin mengalami kecelakaan KRL itu,” kata Rachel Amanda di kawasan Senayan, Jakarta Selatan,
Baca Juga : Syifa Hadju Dituding Tiru Konsep Nikah Alyssa Daguise, Kesha Ratuliu Geram: Orang-orang Sakit
Bagi bintang film Monster Pabrik Rambut ini, tragedi tersebut menjadi potret nyata betapa besarnya risiko yang harus dihadapi oleh para pekerja perempuan di Indonesia.
Rachel menyoroti bagaimana keselamatan para pekerja, khususnya pengguna transportasi publik, masih jauh dari kata ideal.
“Dan itu tuh mungkin adalah sedikit gambaran juga bagaimana ya para pekerja perempuan tuh sebenarnya banyak banget dan mungkin tidak… tidak benar-benar terjamin keamanannya gitu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Rachel Amanda juga angkat bicara mengenai beratnya beban hidup yang dipikul oleh seorang pekerja perempuan di zaman sekarang.
Menurutnya, perempuan seringkali dituntut untuk tampil sempurna di dua dunia sekaligus, yakni karier dan rumah tangga, yang terkadang beban tersebut tidak masuk akal.
Baca Juga : Navigasi Masa Depan Medis: IDI Kota Bogor Gelar Rangkaian Event Akbar PIT XVI hingga Fun Walk
“Pada dasarnya sih sebenarnya ya, semua pekerja tidak mudah ya, baik laki-laki maupun perempuan. Tapi memang kadang-kadang tuh perempuan di-expect bisa melakukan segala sesuatunya tuh dengan baik gitu,” ujar Rachel.
Ia menambahkan, ekspektasi publik yang mengharuskan perempuan sukses bekerja sekaligus mengurus rumah tangga dan anak secara sempurna adalah tekanan yang sangat berat.
“Bekerja, tapi rumah juga harus beres, anak harus itu, sedangkan kadang-kadang tuntutannya itu tidak realistis gitu. Sedangkan load (beban) yang dikasih ke perempuan pekerja tuh banyak banget,” pungkasnya.










