Berguru ke Jepang, Dedie A Rachim Perkuat Strategi Waste to Energy di Kota Bogor

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menjadi salah satu dari enam kepala daerah di Indonesia yang diundang khusus oleh Pemerintah Jepang

Rekam24.com, Bogor – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menjadi salah satu dari enam kepala daerah di Indonesia yang diundang khusus oleh Pemerintah Jepang melalui Ministry of Economy, Trade and Industry (METI). Kunjungan ini bertujuan untuk mendalami workshop penanganan persampahan mutakhir yang diterapkan di Negeri Sakura.

Selain Wali Kota Bogor, delegasi ini juga diikuti oleh Wali Kota Pekanbaru, Wali Kota Yogyakarta, Wali Kota Mojokerto, Bupati Lampung Selatan, dan Wakil Bupati Toba.

Dedie mengungkapkan bahwa salah satu kunci sukses Jepang adalah kedisiplinan pemilahan sampah di tingkat hulu, meskipun mereka sudah memiliki teknologi Waste to Energy atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Baca Juga : Tanpa Tali Pengaman, Pekerja Proyek di Gunung Sindur Terpeleset ke Sungai

“Meskipun nanti sudah ada program Waste to Energy, di hulu itu tetap harus ada pemilahan. Ternyata ada sisi ekonominya, seperti plastik PET maupun PP. Kalau di Jepang itu diformalkan lewat kelembagaan, tidak ada pemulung informal, semua di bawah asosiasi,” ujar Dedie A. Rachim.

Dedie juga menekankan pentingnya pergeseran paradigma masyarakat. Menurutnya, pola lama yakni open dumping atau sekadar membuang sampah ke TPA sudah tidak lagi memadai karena keterbatasan lahan dan dampak lingkungan yang besar.

“Harus dibangun kesadaran penuh bahwa sampah adalah tanggung jawab pribadi masing-masing. Tidak bisa sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Bayangkan kalau terus-terusan dibuang ke TPA, berapa banyak lahan yang harus disiapkan? Dunia nanti bisa ketutupan sampah kalau kita hanya andalkan pola lama,” tegasnya.

Baca Juga : Atap MI Miftahul Falah Gunung Putri Ambruk, Siswa Terpaksa PJJ

Sebagai tindak lanjut, Dedie menyatakan bahwa Kota Bogor akan menempuh semua cara untuk mengatasi krisis sampah, mulai dari pencegahan hingga konversi menjadi nilai ekonomi.

“Tidak ada satu solusi yang ampuh sendiri, kita pakai semua solusi. Mulai dari pemilahan di hulu, pencegahan pemakaian plastik berlebihan, hingga terakhir mengolah sampah menjadi energi atau produk ekonomi,” tutup Dedie.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *